ASAM AMINO

Laporan Praktikum                                   Hari/tanggal  : Selasa/13 Oktober 2009

Biokimia Umum                                        Waktu           : 13.00 – 16.00 WIB

PJP                : Rhamdan Hidayat, M.Si

Asisten          : Dian Apriliana

Heryani

Herdityo Hardioputra

Miranti Nurindah sari

ASAM AMINO

Kelompok 8 :

Nurul Rahayu            G34080068

Suharti R                   G34080090

Fajar Rizalrullah        G34080099

Issanto Putra             G34080103

DEPARTEMEN BIOKIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

Pendahuluan

Protein adalah polimer alami yang terdiri dari beberapa unit asam amino yang mempunyai ikatan amida dan peptida. Di dalam protein terdiri atas asam amino α, asam karboksilat dengan gugus amino pada atom karbon C α. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil.(Winarno 2002)

Asam amino dengan protein yang terdapat di alam umumnya merupakan asam amino dengan atom C α  yang mengikat 4 gugus yang berbeda (asimetris). Konfirmasi atom C α asam amino penyusun protein termasuk L, sedangkan bentuk D secara alamiah jarang dijumpai di alam seperti asam amino nonprotein pada senyawa antibiotika yang dihasilkan oleh bakteri tanah. Berdasarkan bisa tidaknya asam amino disintesis oleh tubuh manusia, maka asam amino dibedakan menjadi asam amino esensial dan nonesensial.(Poedjiadi 1994)

Asam amino esensial berjumlah 20 jenis, asam amino esensial bersifat asimetrik kecuali glisin yang bersifat simetrik. Asam amino memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu dapat larut dalam air, dapat membentuk kristal, dan nilai konstanta dielektrik tinggi sehingga memiliki sifat amfoter atau dalam keadaan zwitter ion memiliki muatan positif dan negatif yang seimbang.(Lehninger 1993)

Beberapa uji kualitatif dapat digunakan untuk mendeteksi adanya protein ataupun grup tertentu dalam molekul protein. Uji-uji tersebut meliputi uji Millon, uji xantoproteat, uji asam glikosilik, uji Sakaguchi, uji belerang, uji Ehrlich, uji Sullivan, uji molisch, uji Knoop, uji Lang, uji Folin, dan uji biuret. Beberapa metode kuantitatif yang dapat digunakan untuk menentukan kandungan protein antara lain metode biuret, metode Kjeldahl metode ninhidrin, dan lainnya.

Gambar Struktur asam amino esensial

(Sumber:http://matcmadison.edu/biotech/resources/protein/labManual/_2.htm).

Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui gugus amino yang terkandung pada larutan yang akan diuji. Pada uji milon untuk mengetahui ada tidaknya tirosin, uji hopkins cole untuk mengetahui adanya triptofan, uji ninhidrin untuk menguji adanya gugus karboksil dan gugus asam amino bebas, uji belerang untuk mengetahui adanya sistein, uji xanthoproteat untuk mengetahui ada tidaknya inti benzena dan uji biuret untuk mengetahui adanya gugus amino.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, pipet volumetrik, penangas air, penjepit dan gelas piala.

Bahan yang digunakan adalah pereaksi Milon, Hopkins Cole, Ninhidrin, Belerang, Xanthoproteat, dan Biuret. Larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, fenol 2%, NaOH 10%, NHO3 pekat, CuSO4 0,1%, dan Pb-Asetat.

Metode

Praktikum mengenai asam amino, ada 6 percobaan yaitu uji Milon, uji Hopkins Cole, uji Ninhidrin, uji Belerang, uji Xanthoproteat, dan uji Biuret. Pada uji Milon, pereaksi Milon ditambahkan pada senyawa yang akan di uji seperti larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%. dipanaskan dan diamati. Uji Hopkins Cole, 2 ml bahan yang akan diuji dilarutkan dalam 2 ml pereaksi hopkins cole ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 3 ml asam pekat secara hati-hati, dibiarkan hingga ter bentuk cincin violet (ungu). Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

Pada uji Ninhidrin, ke dalam 3 ml larutan protein ditambahkan 0.5 ml larutan ninhidrin 0.1% kemudian dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 10 menit. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%. Uji belerang, 5 ml NaOH 10% ditambahkan pada 2 ml larutan protein, kemudian ditambahkan 2 tetes larutan Pb-Asetat 5%, setelah itu dipanaskan beberapa 5 menit. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

Uji Xanthoproteat, 2 ml larutan protein ditambahkan ke dalam 1 ml HNO3 pekat, dicampurkan dan dipanaskan. Kemudian didinginkan dan ditambahkan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa dan terjadi perubahan   warna. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%. Uji yang terakhir adalah uji Biuret, 3 ml larutan protein ditambahkan ke dalam 1 ml NaOH 10 % dan dikocok. Setelah itu ditanbahkan 1 tetes larutan CuSO4. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

Hasil Pengamatan

Tabel 1 Hasil Pengamatan Uji Milon

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Jingga
Gelatin 2% Bening/Putih
Kasein 2% Putih
Pepton 2% Putih
Fenol 2% Putih

Ket: – : tidak mengandung gugus fenolik (tirosin dan turunannya)

+ : mengandung gugus fenolik

Gambar 1 albumin                                    Gambar 2 Gelatin

Gambar 3 Kasein                                      Gambar 4 Pepton

Gambar 5 Fenol

Tabel 2 Hasil Pengamatan Uji Hopkins Cole

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Cincin Violet
Gelatin 2% Tidak ada cincin
Kasein 2% + Cincin Violet
Pepton 2% + Cincin Violet

Ket: – : tidak mengandung triptofan

+ : mengandung triptofan

Gambar 6 Albumin                                   Gambar 7 Gelatin

Gambar 8 Kasein                                      Gambar 9 Pepton

Tabel 3 Hasil Pengamatan Uji Ninhidrin

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Warna Ungu Muda
Gelatin 2% + Warna Kuning
Kasein 2% + Warna Ungu Kemerahan
Pepton 2% + Warna Ungu

Ket: – : tidak adanya asam amino

+ : adanya asam amino

Gambar 10 Albumin                                 Gambar 11 Gelatin

Gambar 12 Kasein                                    Gambar 13 Pepton

Tabel 4 Hasil Pengamatan Uji Belerang

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Warna Abu-abu/kehitaman
Gelatin 2% Bening
Kasein 2% Bening
Pepton 2% Bening

Ket: – : tidak mengandung sistein/histidin

+ : mengandung sistein/histidin

Gambar 14 Albumin                                 Gambar 15 Gelatin

Gambar16 Kasein                                     Gambar 17 Pepton

Tabel 5 Hasil Pengamatan Uji Xanthoproteat

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Kuning Tua
Gelatin 2% + Kuning Muda
Kasein 2% + Kuning Muda
Pepton 2% + Kuning Muda
Fenol 2% + Kuning Muda

Ket: – : tidak mengandung cincin benzena

+ : mengandung cincin benzena

Gambar 18 Albumin                                 Ganbar 19 Gelatin

Gambar 20 Kasein                                    Gambar 21 pepton
Gambar 22 Fenol

Tabel 6 Hasil Pengamatan Uji Biuret

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Ungu Tua
Gelatin 2% + Ungu
Kasein 2% Biru
Pepton 2% + Ungu

Ket: – : tidak mengandung ikatan peptida

+ : mengandung ikatan peptida

Gambar 23 Albumin                                 Gambar 24 Gelatin

Gambar 25 Kasein                                    Gambar 25 Pepton

Pembahasan

Pada percobaan kali ini, berbagai bentuk pengujian dilakukan untuk menguji secara spesifik berbagai bentuk asam amino yang ada di beberapa bahan percobaan. Pada berbagai uji kualitatif yang dilakukan terhadap beberapa macam protein, semuanya mengacu pada reaksi yang terjadi antara pereaksi dan komponen protein, yaitu asam amino tentunya. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada gugus R-nya, sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu protein.(Winarno 2002)

Pada percobaan kali ini, larutan protein yang digunakan adalah larutan albumin. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur (Poedjiadi, 1994). Albumin ini sendiri termasuk kedalam jenis protein yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Struktur dari albumin meliputi struktur yang sama dengan protein, yaitu tersusun atas rantai polipeptida yang berasal dari hasil polymerase asam-asam amino (Wikipedia,2009). Berdasarkan sifat fisiknya dan bentuknya, albumin termasuk kedalam protein globural yaitu protein yang tersusun atas asam amino yang bertumpuk rapat sehingga berbentuk bulat padat.

Pada percobaan yang pertama yaitu percobaan menggunakan uji millon. Setelah albumin,gelatin,kasein,pepton dan fenol direaksikan dengan menggunakan millon, didapatkan bahwa reaksi yang positif terhadap pereaksi millon adalah albumin dan kasein. Pereaksi millon digunakan untuk menguji ada atau tidaknya larutan protein mengandung garam merkuri dan tirosin. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa protein albumin dan kasein mengandung Tirosin sebagai salah stu asam amino penyusunnya, sedangkan gelatin dan pepton tidak. Di sini, uji terhadap fenol negatif, walaupun secara teori tidak. Alasan yang mungkin untuk hal ini adalah kesalahan praktikan dalam bekerja atau kualitas alat yang telah menurun.

Pada uji Hopkins Cole dengan bahan yang sama dengan uji sebelumnya, didapatkan reaksi yang positif terhadap senyawa albumin, gelatin, kasein, dan pepton. Uji Hopkins Cole dilakukan untuk mengetahui apakah senyawa protein mengandung salah satu asam amino triptofan atau tidak. Triptofan akan berkondensasi dengan aldehid bila ada asam kuaat sehingga membentuk cincin berwarna ungu. Hal ini berarti senyawa gelatin,albumin,kasein dan pepton mengandung triptofan dengan ditunjukan oleh adanya cincin berwarna ungu.

Uji yang selanjutnya yaitu uji Ninhidrin. Uji ninhidrin digunakan untuk mengetahui apakah bahan-bahan yang digunakan mengandung  asam amino atau tidak. Uji ini merupakan uji universal untuk asam amino. Setelah dilakukan percobaan dengan bahan yang sama seperti uji sebelumnya, didapatkan senyawa yang positif yaitu senyawa albumin,gelatin,pepton dan fenol. Uji ini akan positif jika ada senyawa-senyawa yang didalamnya mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan asam amino bebas atau α-asam amino. Uji ninhidrin yang positif akan ditandai dengan terbentuknya warna biru. Pada uji ini, hanya kasein yang menunjukan hasil yang negatif. Hal ini disebabkan karena kasein tidak mengandung asam amino bebas atau salah satu gugus karboksil.

Uji belerang dilakukan dengan bahan-bahan yang sama dengan uji sebelumnya,kemudian berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahan-bahan yang positif terhadap uji ini adalah senyawa albumin. uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah didalam bahan-bahan tersebut terdapat asam amino sistein dan metionin atau tidak. Sistein dan metionin merupakan asam amino yang mengandung atom S pada molekulnya. Reaksi yang positif ditandai oleh adanya endapan garam PbS berwarna kelabu. Hal ini karena adanya reaksi antara Pb-asetat dengan asam-asam amino tersebut. Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat membentuk PbS.

Selanjunya, pengujian dengan uji Xanthoproteat menunjukan hasil yang positif terhadap senyawa albumin,gelatin,fenol dan pepton. Uji xanthoproteat digunakan untuk menguji apakah senyawa protein mengandung inti benzena atau tidak didalam molekul-molekul asam aminonya. Inti benzena dapat ternitrasi oleh asam nitrat pekat menghasilkan turunan nitrobenzena. Fenilalanin, Tirosin, dan Triptofan yang mengandung inti benzena pada molekulnya juga mengalami reaksi dengan HNO3 pekat. Untuk perbandingan, dapat ditunjukkan oleh fenol yang bereaksi membentuk nitrobenzena. Hasil uji menunjukkan bahwa dari semua bahan, hanya kasein yang tidak mengandung asam amino yang mempunyai inti benzena pada molekulnya. Tetapi hal ini patut dipertanyakan, karena dari data-data yang diperoleh pada uji millon dan uji Hopkins cole, kasein mengandung tirosin dan triptofan. Salah satu alasan yang mungkin adalah karena kesalahan kerja praktikan dalam mengamati warna yang terbentuk selama reaksi atau dapat juga disebabkan karena kurangnya pengalaman kerja serta kualitas alat dan bahan yang sudah berkurang.

Pada uji yang terakhir, yaitu Pada uji biuret, semua protein yang diujikan memberikan hasil positif. Biuret bereaksi dengan membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO dan -NH pada molekulnya.

Simpulan

Dari hasil percobaan didapat hasil bahwa Albumin menghasilkan reaksi positif pada semua percobaan. Gelatin menghasilkan reaksi positif pada uji ninhidrin, xanthoproteat, dan biuret. Pada uji yang lain gelatin bereaksi negatif. Pada kasein yang menghasilkan reaksi positif pada uji hopkins cole, ninhidrin, dan xanthoproteat. Pada uji milon, belerang, dan biuret menhgasilkan reaksi negatif. Pepton menghasilkan reaksi positif pada uji hopkins cole, ninhidrin, xanthoproteat, dan biuret. Pada uji yang lain pepton bereaksi negatif. Fenol hanya dilakukan pada uji milon dan xanthoproteat. Kedua-dua uji tersebut menghasilkan reaksi yang positif. Reaksi positif ini menunjukkan bahwa pereaksi-pereaksi tersebut ada yang mengandung gugus fenolik, triptofan, sistein atau histidin, cincin benzena dan ikatan peptida. 

Daftar Pustaka

[Anonim]. 2009. Http//wikipedia.co.id/jenis-jenis asam amino.[17 Oktober 2009]

Lehninger L A. 1993. Dasar-Dasar Biokimia. Maggy T, penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari School of Medicine.

Poedjiadi Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia Pers.

Winarno F G. 2002. Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: Gramedia.

ASAM AMINO

Laporan Praktikum                                   Hari/tanggal  : Selasa/13 Oktober 2009

Biokimia Umum                                        Waktu           : 13.00 – 16.00 WIB

PJP                : Rhamdan Hidayat, M.Si

Asisten          : Dian Apriliana

Heryani

Herdityo Hardioputra

Miranti Nurindah sari

ASAM AMINO

Kelompok 8 :

Nurul Rahayu            G34080068

Suharti R                   G34080090

Fajar Rizalrullah        G34080099

Issanto Putra             G34080103

DEPARTEMEN BIOKIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

Pendahuluan

Protein adalah polimer alami yang terdiri dari beberapa unit asam amino yang mempunyai ikatan amida dan peptida. Di dalam protein terdiri atas asam amino α, asam karboksilat dengan gugus amino pada atom karbon C α. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil.(Winarno 2002)

Asam amino dengan protein yang terdapat di alam umumnya merupakan asam amino dengan atom C α  yang mengikat 4 gugus yang berbeda (asimetris). Konfirmasi atom C α asam amino penyusun protein termasuk L, sedangkan bentuk D secara alamiah jarang dijumpai di alam seperti asam amino nonprotein pada senyawa antibiotika yang dihasilkan oleh bakteri tanah. Berdasarkan bisa tidaknya asam amino disintesis oleh tubuh manusia, maka asam amino dibedakan menjadi asam amino esensial dan nonesensial.(Poedjiadi 1994)

Asam amino esensial berjumlah 20 jenis, asam amino esensial bersifat asimetrik kecuali glisin yang bersifat simetrik. Asam amino memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu dapat larut dalam air, dapat membentuk kristal, dan nilai konstanta dielektrik tinggi sehingga memiliki sifat amfoter atau dalam keadaan zwitter ion memiliki muatan positif dan negatif yang seimbang.(Lehninger 1993)

Beberapa uji kualitatif dapat digunakan untuk mendeteksi adanya protein ataupun grup tertentu dalam molekul protein. Uji-uji tersebut meliputi uji Millon, uji xantoproteat, uji asam glikosilik, uji Sakaguchi, uji belerang, uji Ehrlich, uji Sullivan, uji molisch, uji Knoop, uji Lang, uji Folin, dan uji biuret. Beberapa metode kuantitatif yang dapat digunakan untuk menentukan kandungan protein antara lain metode biuret, metode Kjeldahl metode ninhidrin, dan lainnya.

Gambar Struktur asam amino esensial

(Sumber:http://matcmadison.edu/biotech/resources/protein/labManual/_2.htm).

Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui gugus amino yang terkandung pada larutan yang akan diuji. Pada uji milon untuk mengetahui ada tidaknya tirosin, uji hopkins cole untuk mengetahui adanya triptofan, uji ninhidrin untuk menguji adanya gugus karboksil dan gugus asam amino bebas, uji belerang untuk mengetahui adanya sistein, uji xanthoproteat untuk mengetahui ada tidaknya inti benzena dan uji biuret untuk mengetahui adanya gugus amino.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, pipet volumetrik, penangas air, penjepit dan gelas piala.

Bahan yang digunakan adalah pereaksi Milon, Hopkins Cole, Ninhidrin, Belerang, Xanthoproteat, dan Biuret. Larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, fenol 2%, NaOH 10%, NHO3 pekat, CuSO4 0,1%, dan Pb-Asetat.

Metode

Praktikum mengenai asam amino, ada 6 percobaan yaitu uji Milon, uji Hopkins Cole, uji Ninhidrin, uji Belerang, uji Xanthoproteat, dan uji Biuret. Pada uji Milon, pereaksi Milon ditambahkan pada senyawa yang akan di uji seperti larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%. dipanaskan dan diamati. Uji Hopkins Cole, 2 ml bahan yang akan diuji dilarutkan dalam 2 ml pereaksi hopkins cole ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 3 ml asam pekat secara hati-hati, dibiarkan hingga ter bentuk cincin violet (ungu). Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

Pada uji Ninhidrin, ke dalam 3 ml larutan protein ditambahkan 0.5 ml larutan ninhidrin 0.1% kemudian dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 10 menit. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%. Uji belerang, 5 ml NaOH 10% ditambahkan pada 2 ml larutan protein, kemudian ditambahkan 2 tetes larutan Pb-Asetat 5%, setelah itu dipanaskan beberapa 5 menit. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

Uji Xanthoproteat, 2 ml larutan protein ditambahkan ke dalam 1 ml HNO3 pekat, dicampurkan dan dipanaskan. Kemudian didinginkan dan ditambahkan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa dan terjadi perubahan   warna. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%. Uji yang terakhir adalah uji Biuret, 3 ml larutan protein ditambahkan ke dalam 1 ml NaOH 10 % dan dikocok. Setelah itu ditanbahkan 1 tetes larutan CuSO4. Uji ini dilakukan pada larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

Hasil Pengamatan

Tabel 1 Hasil Pengamatan Uji Milon

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Jingga
Gelatin 2% Bening/Putih
Kasein 2% Putih
Pepton 2% Putih
Fenol 2% Putih

Ket: – : tidak mengandung gugus fenolik (tirosin dan turunannya)

+ : mengandung gugus fenolik

Gambar 1 albumin                                    Gambar 2 Gelatin

Gambar 3 Kasein                                      Gambar 4 Pepton

Gambar 5 Fenol

Tabel 2 Hasil Pengamatan Uji Hopkins Cole

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Cincin Violet
Gelatin 2% Tidak ada cincin
Kasein 2% + Cincin Violet
Pepton 2% + Cincin Violet

Ket: – : tidak mengandung triptofan

+ : mengandung triptofan

Gambar 6 Albumin                                   Gambar 7 Gelatin

Gambar 8 Kasein                                      Gambar 9 Pepton

Tabel 3 Hasil Pengamatan Uji Ninhidrin

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Warna Ungu Muda
Gelatin 2% + Warna Kuning
Kasein 2% + Warna Ungu Kemerahan
Pepton 2% + Warna Ungu

Ket: – : tidak adanya asam amino

+ : adanya asam amino

Gambar 10 Albumin                                 Gambar 11 Gelatin

Gambar 12 Kasein                                    Gambar 13 Pepton

Tabel 4 Hasil Pengamatan Uji Belerang

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Warna Abu-abu/kehitaman
Gelatin 2% Bening
Kasein 2% Bening
Pepton 2% Bening

Ket: – : tidak mengandung sistein/histidin

+ : mengandung sistein/histidin

Gambar 14 Albumin                                 Gambar 15 Gelatin

Gambar16 Kasein                                     Gambar 17 Pepton

Tabel 5 Hasil Pengamatan Uji Xanthoproteat

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Kuning Tua
Gelatin 2% + Kuning Muda
Kasein 2% + Kuning Muda
Pepton 2% + Kuning Muda
Fenol 2% + Kuning Muda

Ket: – : tidak mengandung cincin benzena

+ : mengandung cincin benzena

Gambar 18 Albumin                                 Ganbar 19 Gelatin

Gambar 20 Kasein                                    Gambar 21 pepton
Gambar 22 Fenol

Tabel 6 Hasil Pengamatan Uji Biuret

Larutan Hasil Pengamatan
Albumin 2% + Ungu Tua
Gelatin 2% + Ungu
Kasein 2% Biru
Pepton 2% + Ungu

Ket: – : tidak mengandung ikatan peptida

+ : mengandung ikatan peptida

Gambar 23 Albumin                                 Gambar 24 Gelatin

Gambar 25 Kasein                                    Gambar 25 Pepton

Pembahasan

Pada percobaan kali ini, berbagai bentuk pengujian dilakukan untuk menguji secara spesifik berbagai bentuk asam amino yang ada di beberapa bahan percobaan. Pada berbagai uji kualitatif yang dilakukan terhadap beberapa macam protein, semuanya mengacu pada reaksi yang terjadi antara pereaksi dan komponen protein, yaitu asam amino tentunya. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada gugus R-nya, sehingga dari reaksi tersebut dapat diketahui komponen asam amino suatu protein.(Winarno 2002)

Pada percobaan kali ini, larutan protein yang digunakan adalah larutan albumin. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur (Poedjiadi, 1994). Albumin ini sendiri termasuk kedalam jenis protein yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Struktur dari albumin meliputi struktur yang sama dengan protein, yaitu tersusun atas rantai polipeptida yang berasal dari hasil polymerase asam-asam amino (Wikipedia,2009). Berdasarkan sifat fisiknya dan bentuknya, albumin termasuk kedalam protein globural yaitu protein yang tersusun atas asam amino yang bertumpuk rapat sehingga berbentuk bulat padat.

Pada percobaan yang pertama yaitu percobaan menggunakan uji millon. Setelah albumin,gelatin,kasein,pepton dan fenol direaksikan dengan menggunakan millon, didapatkan bahwa reaksi yang positif terhadap pereaksi millon adalah albumin dan kasein. Pereaksi millon digunakan untuk menguji ada atau tidaknya larutan protein mengandung garam merkuri dan tirosin. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa protein albumin dan kasein mengandung Tirosin sebagai salah stu asam amino penyusunnya, sedangkan gelatin dan pepton tidak. Di sini, uji terhadap fenol negatif, walaupun secara teori tidak. Alasan yang mungkin untuk hal ini adalah kesalahan praktikan dalam bekerja atau kualitas alat yang telah menurun.

Pada uji Hopkins Cole dengan bahan yang sama dengan uji sebelumnya, didapatkan reaksi yang positif terhadap senyawa albumin, gelatin, kasein, dan pepton. Uji Hopkins Cole dilakukan untuk mengetahui apakah senyawa protein mengandung salah satu asam amino triptofan atau tidak. Triptofan akan berkondensasi dengan aldehid bila ada asam kuaat sehingga membentuk cincin berwarna ungu. Hal ini berarti senyawa gelatin,albumin,kasein dan pepton mengandung triptofan dengan ditunjukan oleh adanya cincin berwarna ungu.

Uji yang selanjutnya yaitu uji Ninhidrin. Uji ninhidrin digunakan untuk mengetahui apakah bahan-bahan yang digunakan mengandung  asam amino atau tidak. Uji ini merupakan uji universal untuk asam amino. Setelah dilakukan percobaan dengan bahan yang sama seperti uji sebelumnya, didapatkan senyawa yang positif yaitu senyawa albumin,gelatin,pepton dan fenol. Uji ini akan positif jika ada senyawa-senyawa yang didalamnya mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan asam amino bebas atau α-asam amino. Uji ninhidrin yang positif akan ditandai dengan terbentuknya warna biru. Pada uji ini, hanya kasein yang menunjukan hasil yang negatif. Hal ini disebabkan karena kasein tidak mengandung asam amino bebas atau salah satu gugus karboksil.

Uji belerang dilakukan dengan bahan-bahan yang sama dengan uji sebelumnya,kemudian berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahan-bahan yang positif terhadap uji ini adalah senyawa albumin. uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah didalam bahan-bahan tersebut terdapat asam amino sistein dan metionin atau tidak. Sistein dan metionin merupakan asam amino yang mengandung atom S pada molekulnya. Reaksi yang positif ditandai oleh adanya endapan garam PbS berwarna kelabu. Hal ini karena adanya reaksi antara Pb-asetat dengan asam-asam amino tersebut. Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat membentuk PbS.

Selanjunya, pengujian dengan uji Xanthoproteat menunjukan hasil yang positif terhadap senyawa albumin,gelatin,fenol dan pepton. Uji xanthoproteat digunakan untuk menguji apakah senyawa protein mengandung inti benzena atau tidak didalam molekul-molekul asam aminonya. Inti benzena dapat ternitrasi oleh asam nitrat pekat menghasilkan turunan nitrobenzena. Fenilalanin, Tirosin, dan Triptofan yang mengandung inti benzena pada molekulnya juga mengalami reaksi dengan HNO3 pekat. Untuk perbandingan, dapat ditunjukkan oleh fenol yang bereaksi membentuk nitrobenzena. Hasil uji menunjukkan bahwa dari semua bahan, hanya kasein yang tidak mengandung asam amino yang mempunyai inti benzena pada molekulnya. Tetapi hal ini patut dipertanyakan, karena dari data-data yang diperoleh pada uji millon dan uji Hopkins cole, kasein mengandung tirosin dan triptofan. Salah satu alasan yang mungkin adalah karena kesalahan kerja praktikan dalam mengamati warna yang terbentuk selama reaksi atau dapat juga disebabkan karena kurangnya pengalaman kerja serta kualitas alat dan bahan yang sudah berkurang.

Pada uji yang terakhir, yaitu Pada uji biuret, semua protein yang diujikan memberikan hasil positif. Biuret bereaksi dengan membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO dan -NH pada molekulnya.

Simpulan

Dari hasil percobaan didapat hasil bahwa Albumin menghasilkan reaksi positif pada semua percobaan. Gelatin menghasilkan reaksi positif pada uji ninhidrin, xanthoproteat, dan biuret. Pada uji yang lain gelatin bereaksi negatif. Pada kasein yang menghasilkan reaksi positif pada uji hopkins cole, ninhidrin, dan xanthoproteat. Pada uji milon, belerang, dan biuret menhgasilkan reaksi negatif. Pepton menghasilkan reaksi positif pada uji hopkins cole, ninhidrin, xanthoproteat, dan biuret. Pada uji yang lain pepton bereaksi negatif. Fenol hanya dilakukan pada uji milon dan xanthoproteat. Kedua-dua uji tersebut menghasilkan reaksi yang positif. Reaksi positif ini menunjukkan bahwa pereaksi-pereaksi tersebut ada yang mengandung gugus fenolik, triptofan, sistein atau histidin, cincin benzena dan ikatan peptida. 

Daftar Pustaka

[Anonim]. 2009. Http//wikipedia.co.id/jenis-jenis asam amino.[17 Oktober 2009]

Lehninger L A. 1993. Dasar-Dasar Biokimia. Maggy T, penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari School of Medicine.

Poedjiadi Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia Pers.

Winarno F G. 2002. Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: Gramedia.

PENETAPAN KUOSIEN RESPIRASI JARINGAN TUMBUHAN

Nama               : Issanto Putra                         Tanggal Praktikum : 10 Maret 2010

NRP                : G34080103                           Bahan Tanaman      : Phaseolus radiatus

Mayor              : Biologi                                  Nama Asisten          : Dedi Syahputra

Kelompok       :02                                                                              Ningsih Amelia

PENETAPAN KUOSIEN RESPIRASI JARINGAN TUMBUHAN

I. Tujuan

Menetapkan laju respirasi dan kuosien respirasi kecambah kacang hijau (Phaseolus radiatus).

II. Pendahuluan

Fotosintesis  menyediakan molekul organik yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan mahluk hidup lainnya.  Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi . Respirasi dan metabolisme karbon yang terkait di dalamnya melepas energi yang tersimpan di dalam senyawa karbon dengan cara yang terkontrol untuk digunakan oleh sel.  Pada waktu yang bersamaan, respirasi menghasilkan banyak senyawa karbon yang dibutuhkan sebagai prekursor untuk biosintesis senyawa organik lainnya.  Respirasi aerob merupakan proses yang umum terjadi dalam hampir semua organisme eukariot, dan secara umum proses respirasi di dalam tumbuhan mirip dengan apa yang dijumpai di dalam hewan dan eukoriot tingkat rendah, tetapi beberapa aspek khusus dari respirasi tumbuhan membedakannya dari respirasi hewan.  Respirasi aerob adalah proses biologi yang memobilisasi dan mengoksidasi molekul organik secara terkontrol.  Selama respirasi, energi bebas dilepas dan disimpan sementara dalam bentuk ATP yang siap digunakan untuk aktifitas sel dan perkembangan tumbuhan (Tjitrosomo 1987).

Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari lingkungan. Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan dengan jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian juga halnya dengan CO2 yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk ke dalam ruang antar sel. Sedangkan untuk menghitung respirasi dapat menggunakan koefisian respirasi (KR), yaitu perbandingan CO2 dengan O2 (Kamariyani 1984).

Perbedaan antara jumlah CO2 yang dilepaskan dan jumlah O2 yang digunakan biasa dikenal dengan Respiratory Ratio atau Respiratory Quotient dan disingkat RQ. Nilai RQ ini tergantung pada bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempurna atau tidaknya proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya (Simbolon, 1989).

III. Hasil Pengamatan

Da = 8 mm                                                               Db = 5 mm

Pa =760 –      = 759,38 mmHg                                Pb = 760 –  = 759,615 mmHg

Va = 3,14 x 0,52 x 8 =             6,28 mm3 Vb = 3,14 x 0,52 x 5 = 3,925 mm3

Vt = 250 ml = 2,5 x 105 mm3 Vt = 250 ml = = 2,5 x 105 mm3

V1 = (Vt – Va) (760 –                                           V2 = (Vt – Vb) (760 –

760                                                                                760

= (2,5 x 105 – 6,28) (759,38)                                     = (2,5 x 105 – 3,925) (759,615)

760                                                                           760

= 249.793,06 mm3 = 249.871,08 mm3

Va’ = Vt – V1 = 2,5 x 105 – 249.793,06              Vb’ = Vt – V2 = 2,5 x 105–249.871,08

=  206,94 mm3 = 128,92 mm3

Vol O2 = Vb’ = 128,92 mm3

Vol CO2 = Vb’ – Va’ =128,92 –206,94 = -78,02 mm3 = 78,02 mm3

Laju Respirasi CO2 = Vol CO2/ gram  =78,02 mm3/15 gram  = 0,086 mm3/g/menit

Waktu                     60 menit

Laju Respirasi O2 = Vol O2/ gram  = 128,92 mm3/15 gram  = 1,719 mm3/g/menit

Waktu                      5 menit

KR = vol CO2 =  78,02 mm3 =  0,6

vol O2 128,92 mm3

Keterangan :

Va : Volume dalam pipa kapiler pada akhir percobaan, sebelum ditumpahkan.

Da : Jarak permukaan cairan pipa di atas permukaan cairan dalam gelas piala sebelum NaOH ditumpahkan.

Vb : Volume dalam pipa sesudah NaOH ditumpahkan

Db : Jarak permukaan cairan pipa di atas permukaan cairan dalam gelas piala setelah NaOH ditumpahkan.

Vt : Volume total air, dianggap sama dengan volume labu Erlenmeyer (250 ml).

IV. Pembahasan

Kecambah melakukan pernapasan untuk mendapatkan energi yang dilakukan dengan melibatkan gas oksigen (O2) sebagai bahan yang diserap atau diperlukan dan menghasilkan gas karbondioksida (CO2), air (H2O) dan sejumlah energi. Percobaan kali ini dilakukan untuk mengetahui laju respirasi dan menentukan kuosien respirasi dari tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus). Pada dasarnya, proses respirasi bertujuan untuk mendapatkan energi yang digunakan dalam metabolisme dan proses pertumbuhan serta perkembangan untuk menjadi sebuah tanaman dewasa. Semakin besar suatu tanaman, maka makin besar pula kebutuhannya akan energi sehingga dalam respirasinya memerlukan oksigen yang banyak pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses respirasi suatu organisme antara lain: umur atau usia organisme tersebut, bobot dari kegiatan yang dilakukan, ukuran organisme itu sendiri, keadaan lingkungan sekitar, serta cahaya juga mempengaruhi rata-rata pernapasan (Dwidjoseputro  1986).

Koesien  respirasi (KR) ialah rasio molekul (volume) CO2 yang dilepaskan oleh jaringan pada periode waktu tertentu dan molekul (volume) O2 yang diambil (Tjondronegoro 2010). Besar kecilnya nilai koesien respirasi ini dipengaruhi oleh bahan atau subtrat untuk respirasi dan sempurna atau tidaknya proses respirasi tersebut dengan kondisi lainnya (Simbolon, 1989). Setelah dilakukan pengamatan dan perhitungan, maka didapatkan beberapa data yaitu nilai Da sebesar 8 mm dan nilai Db sebesar 5 mm. nilai Da dan Db berbeda untuk setiap kelompok, hal ini dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kecambah kacang hijau yang berada dalam tabung. Umumnya nilai Db lebih besar dibandingkan dengan nilai Da karena saat NaOH ditumpahkan, maka laju dari kenaikan cairan Metil Biru didalam pipa kapiler akan semakin cepat dibandingkan sebelum penumpahan NaOH.

Hasil dari perhitungan selanjutnya yaitu  volume dari CO2 adalah 78,02 mm3 dan volume O sebesar 128,92 mm3 sehingga dapat diketahui nilai koesien respirasinya (KR) sebesar 0,6. Laju respirasi yang telah berhasil dihitung yaitu terdiri atas laju respirasi O2 sebesar 1,719 mm3/g/menit dan laju respirasi CO2 sebesar 0,086 mm3/g/menit. Kacang hijau yang memiliki cadangan makanan utama berupa pati (karbohidrat) seharusnya memiliki nilai KR sama atau mendekati nilai KR karbohidrat. Namun dari hasil perhitungan, nilai KR kacang hijau berbeda dengan nilai KR karbohidrat yaitu 1 akan tetapi lebih mendekati nilai KR dari asam lemak yaitu 0,7. Hal tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kurang cermatnya praktikan dalam melihat metil biru dalam larutan krebs yang digunakan sebagai patokan dalam perhitungan, sehingga data  dari Da dan Db yang diperoleh kurang valid. Hal lain yang menjadi faktor kegagalan yaitu kurangnya keterampilan dan kemampuan praktikan dalam melakukan percobaan dan mengamati perubahan yang terjadi serta kesalahan dari alat-alat yang memang sudah cukup memiliki umur yang lama sehingga ketepatan dan kualitas alat-alat yang digunakan berkurang.

V. Kesimpulan

Laju respirasi CO2 dari Phaseolus radiatus sebesar 0,086 mm3/g/menit, laju respirasi O2 sebesar 1,719 mm3/g/menit dan kuosien respirasinya sebesar 0,6. Proses respirasi menyerap O2 dan menghasilkan CO2. Kuosien respirasi memberi petunjuk tentang jenis substrat yang dioksidasikan dan jenis metabolisme yang sedang berlangsung.

VI. Daftar Pustaka

Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Kamariyani. 1994. Fisologi Pasca Panen. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Simbolon, Hubu dkk. 1989. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta.

Tjitrosomo.1987. Botani Umum 2. Bandung: Penerbit Angkasa.

Tjondronegoro dkk. 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bogor: Biologi FMIPA IPB Bogor.

VII. Jawaban Pertanyaan

  1. Substrat apakah yang direspirasikan dalam kecambah yang digunakan dalam percobaan ini?

Asam lemak (menurut hasil percobaan) karena Asam lemak, nilai KRnya 0,7, mendekati 0,6.

  1. Apakah artinya penetapan nilai KR dalam memepelajari aktifitas respirasi jaringan tumbuhan?

Dengan diperoleh nilai KR, memberi petunjuk tentang jenis substrat yang dioksidasikan  dan jenis metabolisme yang sedang berlangsung.

  1. Jika substrat respirasi adalah C4H6O2, tentukan nilai KR jika terjadi respirasi lengkap!

H­­6O2 + 4,5 O2 4 CO­2 + 3 H2O + Energi

KR =  CO­2 / O­2 = 4 / 4,5 = 0,89

  1. Tentukan juga nilai KR jika substrat respirasi adalah C18H34O2!

18H­­342 + 25,5 O2 18 CO2 + 17 H2O + Energi

KR = CO2 / O 2=  18 / 25,5 = 0,7

KOMPOSISI KIMIA MEMBRAN SEL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMEABILITAS

Nama   : Issanto Putra                                     TGL Praktikum           : 10 Maret 2010

NRP    : G34080103                                       Bhn Tanaman              : Beta vulgaris

Mayor  : Biologi                                              Asisten                        : 1. Tedy Luhur M

Klmpk : 02                                                                                            2. Ningsih Amelia

KOMPOSISI KIMIA MEMBRAN SEL DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMEABILITAS

  1. TUJUAN

Melihat pengaruh berbagai perlakuan fisik dan kimia terhadap permeabilitas membran.

  1. PENDAHULUAN

Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri atas tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti sel. Sel dibagi menjadi dua macam, yaitu sel prokariotik dan  sel eukariotik. Semua sel eukariotik memiliki sistem membran yang kompleks yang banyak berperan untuk kelangsungan hidup dan aktifitas sel tersebut. Membran atau plasmalema menyelubungi sel dengan fungsi mengatur keluar masuknya zat,menyampaikan atau menerima rangsang, dan memiliki struktur yang terdiri atas dua lipoprotein yang diantara molekulnya terdapat pori.(Yatim, 1987)

Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Berdasarkan komposisi kimianya membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Membran memiliki lapisan ganda dan molekul-molekul fosfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid. (Prawiranata, 1981)

Komposisi lipid dan protein penyusun membran bervariasi, bergantung pada jenis dan fungsi membran itu sendiri. Selain perbedaan diatas, ternyata membran mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu bersifat selektif permeabel terhadap molekul-molekul. Air, gas, dan molekul kecil hidrofobik secara bebas dapat melewati membran secara difusi sederhana. Ion dan molekul polar yang tidak bermuatan harus dibantu oleh protein permease spesifik untuk dapat diangkut melalui membran dengan proses yang disebut difusi terbantu (fasilitated diffusion). Kedua cara pengangkutan ini disebut transpor pasif. Untuk mengangkut ion dan molekul dalam arah yang melawan gradien konsentrasi, suatu proses transpor aktif harus diterapkan. Dalam hal ini protein aktifnya memerlukan energi berupa ATP, ataupun juga digunakan cara couple lewat proses antiport dan symport. (Anonimous, 2008). Berdasarkan ultra struktur dan fungsi membran terbukti bahwa membran tersusun oleh protein dan lemak yang memiliki struktur tiga lapisan dengan tebal kurang lebih 75 Angstrom. Berdasarkan model hipotesis Davson dan Danielli, lapisan protein mengapit lapisan biomolekul lemak (fosfolipid). (Tim Fisiologi Tumbuhan, 2008)

  1. HASIL PENGAMATAN

  1. A. Tabel perbandingan nilai absorbansi perlakuan fisik ( Panas & beku )
Perlakuan Nilai absorbansi pada 525 nm Nilai kepekatan larutan
65oC

60oC

50oC

45oC

Beku

kontrol

0,298

0,119

0,076

0,268

3,299

0,108

++++

+++

++

+

+++++

Keterangan : +++++  = sangat pekat

++++   = pekat

+++    = sedikit pekat

++      = kurang pekat

+       = tidak pekat

–             = bening

  1. Grafik hubungan antara perlakuan panas (x) dan nilai absorbansi (y)

  1. C. Tabel nilai absorbansi terhadap perlakuan kimia
perlakuan Nilai absorbansi pada 525 nm Nilai kepekatan larutan
Metanol

Aseton

Benzena

kontrol

1,095

0,093

0,018

0,108

++++

++

+

Keterangan  : ++++     = pekat

++        = sedikit pekat

+          = kurang pekat

–          = bening

  1. Gambar hasil pengamatan

  1. PEMBAHASAN

Setelah dilakukannya semua perlakuan untuk mengamati pengaruh fisik dan kimia terhadap sifat permeabilitas membran sel pada tanaman Beta vulgaris, kemudian dilakuknnya pengamatan, terdapat hasil yang menunjukan perbedaan adanya pengaruh perlakuan fisik dan kimia terhadap permeabilitas membran sel.

Pengamatan yang pertama yaitu pada potongan umbi Beta vulgaris yang diberi perlakuan dengan direndam didalam air dengan suhu 65oC, 60oC, 50oC, 45oC selama satu jam. Setelah dilakukan pengamatan terhadap kekeruhan air dengan mengukur absorbansinya, ternyata untuk umbi yang direndam didalam air bersuhu 65oC memiliki nilai absorbansi yang paling tinggi. Pada saat suhu semakin tinggi, maka permeabilitas membran akan semakin berkurang karena komponen membran akan mengalami kerusakan yang disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi. Suhu tinggi sangat mempengaruhi protein dan fosfolipid lemak penyusun membran. Akibatnya, sel mengalami difusi cairan sel ke luar membran sel. Semakin menurun suhunya maka nilai absorban yang berhasil teramati semakin rendah, namun terjadi penyimpangan untuk suhu 45oC. Pada suhu 45oC ternyata nilai absorban yang teramati sebesar 0,268. Hal itu menunjukan kenaikan kembali setelah terus turun dari suhu 65oC. Hal itu merupakan kesalahan yang mungkin disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu kesalahan saat merendam umbi pada suhu 70oC, kurangnya keahlian praktikan saat pengukuran nilai absorban, dan kesalahan pada saat pengukuran nilai absorban. Menurut Bonner (1961), perbedaan permeabilitas sangat bergantung pada besar kecilnya molekul yang lewat dan ditentukan oleh besar-kecilnya pori-pori membran. Tapi  pada membran plasma sel hidup, besarnya molekul tidak berpengaruh, hal ini disebabkan oleh adanya kaitan antara kelarutan zat dalam salah satu komponen membran.

Percobaan selanjutnya, yaitu perlakuan umbi Beta vulgaris yang direndam didalam keadaan suhu air rendah atau dingin. Setelah dilakukannya pengamatan terhadap umbi dan penghitungan nilai absorbannya, didapatkan data bahwa nilai absorban yang tertera yaitu sebesar 3,299. Nilai absorban yang tinggi menunjukan bahwa perlakuan terhadap air dingin sangat mempengaruhi permeabilitas sel karena membran sel tidak tahan terhadap suhu yang terlalu ekstrim sehingga komponen penyusun membran menjadi rusak dan isi sel keluar sel. Hal tersebut menunjukan bahwa nilai ini jauh lebih besar dibandingkan dengan perlakuan umbi dengan air panas. Grafik yang tertera diatas meunjukan penurunan garis saat umbi diperlakukan dengan air panas, kemudian naik secara signifikan saat umbi diperlakukan dengan air dingin.

Percobaan yang terakhir yaitu perlakuan umbi Beta vulgaris dengan zat-zat kimia, yaitu direndam dengan larutan metanol, aseton, dan benzena. Hasil yang didapatkan setelah melakukan pengamatan terhadap ketiga perlakuan tersebut, umbi yang direndam dengan metanol memperlihatkan bentuk umbi yang mengembung, sementara umbi yang direndam didalam benzena tidak memperlihatkan perubahan bentuk yang berarti, sementara umbi yang direndam didalam aseton menunjukan keadaan umbi yang mengkerut. Hal tersebut sangat berkaitan dengan nilai permeabilitas membran sel. Umbi yang direndam dalam larutan aseton ternyata memiliki kerusakan permeabilitas membran yang besar karena larutan aseton dapat merusak komponen membran sehingga larutan intra sel berdifusi keluar sel.  Hal sebaliknya terjadi pada metanol, dimana membran sel menjadi sedikit  berkurang daya permeabilitasnya sehingga ada cairan yang masuk kedalam sel yang mengakibatkan sel umbi menjadi mengembung. Nilai absorban yang berhasil diamati, yaitu untuk metanol sebesar 1,095, untuk benzen sebesar 0,093 dan untuk aseton sebesar 0,018. Hal itu menunjukan bahwa setiap pemberian zat kimia yang berbeda mempengaruhi tingkat permeabilitas yang berbeda pula. Pemberian metanol, mempengaruhi tingkat kerusakan membran sel yang tinggi dibandingkan dengan perlakuan dengan menggunakan aseton maupun benzen.

  1. KESIMPULAN

Membran sel akan mengalami kerusakan ataupun penurunan tingkat permeabilitas selnya jika ditahruh ataupun diberikan perlakuan pada suhu ekstrem (panas & dingin). Membran sel juga akan mengalami penurunan tingkat permeabilitas membran sel jika berada pada kondisi lingkungan yang terdapat zat-zat kimianya sehingga cairan dalam sel dapat keluar ataupun masuk kedalam sel secara bebas.

  1. DAFTAR PUSTAKA

Bonner, J.1961.Principle of Plant Physiology. Canada: Pasadena.

Prawinata, W. 1981. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung: ITB.

Tim Fisiologi Tumbuhan. 2008. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Padang: Universitas Andalas.

Yatim,W. 2000. Embriologi. Semarang: CV.Tarsito.

VII.JAWABAN PERTANYAAN

  1. Akibat dari perlakuan panas terhadap permeabilitas membran sel adalah komponen membran sel yang merupakan fosfolopid dan protein menjadi terdegradasi dan terurai yang mengakibatkan permeabilitas membran menjadi rusak.
  2. Akibat yang ditimbulkan dari perlakuan pembekuan terhadap permeabilitas membran sel yaitu struktur dari komponen penyusun membran menjadi kaku dan rusak karena protein dan fosfolipid sangat rentan terhadap perlakuan suhu yang ekstrem seingga permeabilitas sel enjadi berkurang.
  3. Pengaruh senyawa organik yang diberikan, yaitu komposisi membran yang terutama yaitu komposisi lipid menjadi terdegradasi oleh pemberian senyawa organik yang kemudian molekul polar dapat dengan mudah keluar –masuk sel karena struktur lipid dan protein telah dirusak.
  4. Hubungan antara sifat-sifat molekul hidrofilik dibagian luar membran sel dan hidrofobik dibagian dalam membran terhadap permeabilitas membran yaitu membran enjadi bersifat selektif permeabel. Sifat ini yang menyebabkan hanya molekul-molekul tertentu dan kecil saja yang dapat masuk kedalam membran. Sifat itu pula yang membuat membran tidak dapat mudah ditembus oleh senyawa-senyawa polar.

apa itu ilmu pengetauan

pengetahuan adalah tombak perubahan, tolak ukur kemajuan bangsa, titik balik peradaban,dan pengubah serta arah menuju masa depan. ilmu pengetahuan yang membuat hidup ini lebih berwarna,bersinar,berbeda setiap generasi dan pengubah zaman. pengetahuan dapat menjadi senjata, dapat menjadi pengaruh, dapat menjadi petunjuk arah, dapat menjadi penolong dan dapat juga menjadi bencana untuk semua unsur kehidupan. pengetahuan menjadi raksasa bermuka dua. muka baik dan muka buruk dan dapat pula disebut hemaprodit… knapa? karena jika digunakan untuk unsur kebaikan, akan menghasilkan keturunan yang dapat membanggakan untuk peradabannya, tapi jika digunakan untuk unsur kejahatan, maka akan melahirkan keturunan yang membuat bencana bagi peradabannya. itulah makna dari ilmu pengetahuan. selalu tak terduga dan akan selalu berubah menuju ketidak teraturan.